Putri M. Lautiting
(Murid Baru SMK Negeri Ampera, Jurusan Perawat)
Sejak kecil saya lahir dari keluarga sederhana. Orang tua saya bukanlah orang yang kaya. Mereka bekerja setiap hari hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan saya. Walaupun hidup dalam keterbatasan, mereka memiliki satu mimpi besar, yaitu melihat saya menjadi anak yang berhasil.
Setiap hari ayah dan ibu selalu berpesan,
“Sekolah yang rajin, Nak. Belajarlah dengan sungguh-sungguh.”
Ayah juga sering berkata,
“Suatu hari nanti kamu harus menjadi seorang perawat agar bisa menolong banyak orang.”
Kata-kata itu selalu saya simpan dalam hati.
Ketika saya mendaftar di SMK Negeri Ampera, perjuangan orang tua saya benar-benar luar biasa. Mereka pergi mencari kemiri di daerah Tonte. Perjalanannya sangat jauh, jalannya rusak, berbatu, dan melelahkan. Mereka rela menahan panas matahari dan kelelahan hanya untuk mendapatkan biaya keberangkatan saya ke sekolah.
Ayah juga bekerja tanpa mengenal lelah, siang dan malam. Semua dilakukan agar saya bisa melanjutkan pendidikan.
Saya melihat sendiri bagaimana lelahnya mereka. Namun mereka selalu tersenyum dan berkata,
“Nak, kalau sudah sampai di SMK Negeri Ampera, belajarlah dengan rajin. Jangan pernah sia-siakan perjuangan ayah dan ibu.”
Perjalanan menuju sekolah impian saya juga tidak mudah.
Saya berangkat dari Desa Bagang, Pulau Pantar. Dari rumah menuju Pelabuhan Baranusa membutuhkan waktu yang cukup lama. Jalan memang sudah beraspal, tetapi cuacanya sangat panas dan berdebu.
Sesampainya di pelabuhan, kami mendapat kabar bahwa kapal yang semula dijadwalkan berangkat pukul dua belas siang ditunda hingga pukul lima sore.
Selama lima jam saya bersama ayah dan ibu menunggu di pelabuhan. Kami kepanasan, lapar, dan sangat lelah. Banyak penumpang memilih berteduh, sedangkan kami hanya duduk di tepi pelabuhan sambil memandang laut.
Di dalam hati saya berkata,
“Sabar, Putri. Ini adalah langkah pertama menuju sekolah impianmu sejak SD.”
Ayah kemudian berkata,
“Nak, lima jam menunggu ini bukan apa-apa. Perjuanganmu nanti selama sekolah akan jauh lebih besar.”
Saya hanya mengangguk sambil menahan air mata. Saya sadar bahwa semua perjuangan ini dilakukan agar saya dapat belajar di SMK Negeri Ampera, sekolah yang selama ini saya impikan dan tempat saya akan belajar menjadi seorang perawat agar dapat membantu masyarakat di kampung saya.
Akhirnya pukul lima sore kapal berangkat. Kami tidak mendapatkan tempat tidur sehingga harus duduk di bagian luar kapal sambil menahan dinginnya angin laut.
Saya melihat ayah dan ibu sangat kelelahan. Hati saya terasa sedih. Tidak lama kemudian ombak besar datang menghantam kapal. Saya memegang kaki ayah sambil berdoa,
“Tuhan, tolong lindungi kami.”
Beberapa saat kemudian ombak mulai reda.
Saat itu saya sadar bahwa saya tidak berjuang sendirian. Saya membawa doa kedua orang tua, membawa harapan keluarga, dan membawa masa depan saya sendiri.
Saya berkata dalam hati,
“Kalau lima jam menunggu di pelabuhan dan perjalanan laut yang penuh ombak ini bisa saya lewati, maka tiga tahun belajar di SMK Negeri Ampera juga pasti bisa saya lewati.”
Terima kasih Mama dan Bapak. Terima kasih karena tidak pernah menyerah demi masa depan saya. Setiap tetes keringat dan setiap pengorbanan kalian akan menjadi semangat bagi saya untuk terus belajar. Saya ingin menjadi anak yang berkarakter, disiplin, dan membanggakan keluarga sehingga semua perjuangan kalian tidak sia-sia.
Sesampainya di Alor, saya bersama orang tua dan kakak langsung menuju SMK Negeri Ampera. Saya sudah tidak sabar melihat sekolah yang selama ini saya impikan.
Kami disambut dengan sangat ramah oleh bapak dan ibu guru. Setelah menyerahkan berkas pendaftaran, kami diajak melihat asrama. Saya merasa sangat senang karena lingkungan sekolah terlihat bersih, nyaman, dan membuat saya semakin yakin bahwa saya berada di tempat yang tepat.
Keesokan harinya saya kembali ke sekolah. Saya melihat teman-teman baru, guru-guru baru, dan suasana baru. Awalnya saya sangat gugup. Namun keramahan semua orang membuat rasa takut itu perlahan menghilang.
Kami diminta mengerjakan tes penentuan jurusan. Sebelum mengerjakan soal saya berdoa kepada Tuhan agar diberikan ketenangan dan kemampuan untuk mengerjakannya dengan baik. Syukur kepada Tuhan, saya dapat menyelesaikan semua soal dengan teliti.
Hari berikutnya kami mengikuti pemeriksaan kesehatan. Kami menjalani pemeriksaan pernapasan, gigi, telinga, mata, tekanan darah, tinggi badan, dan berat badan. Kakak-kakak OSIS yang membantu pemeriksaan sangat ramah sehingga kami merasa nyaman.
Setelah itu kami diberi informasi mengenai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Hari pertama MPLS akhirnya tiba.
Saya bangun pukul lima pagi dan bersiap menuju sekolah. Ayah mengantar saya menggunakan sepeda motor. Karena takut terlambat, ayah mengendarai motor cukup cepat.
Saya berkata,
“Bapak, pelan-pelan saja. Nanti kita jatuh.”
Ayah menjawab,
“Kalau pelan nanti kita terlambat.”
Benar saja, ketika sampai di sekolah saya sudah sedikit terlambat. Saya sangat takut. Namun ketika masuk ke kelas, bapak kepala sekolah dan para guru menyambut kami dengan penuh kehangatan sehingga rasa takut itu berubah menjadi semangat.
Selama MPLS kami mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga.
Kami belajar tentang bahaya judi online dari pihak kepolisian. Dari materi itu saya semakin yakin bahwa saya datang ke SMK Negeri Ampera untuk belajar dan meraih masa depan, bukan untuk merusak hidup.
Kami juga diajak berkeliling sekolah oleh kakak-kakak OSIS. Saya melihat ruang kelas, laboratorium komputer, laboratorium farmasi, perpustakaan, UKS, musala, kantor guru, ruang OSIS, serta berbagai fasilitas lainnya.
Dalam hati saya berkata,
“Akhirnya saya berada di sekolah yang selama ini saya impikan.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi ilmu dan motivasi.
Pak Gusti mengajarkan bahwa sebelum menolong orang lain, kita harus memiliki hati yang penuh semangat dan sukacita.
Ibu Siti menjelaskan bahwa lulusan SMK Negeri Ampera harus menjadi lulusan yang kompeten, berakhlak baik, dan siap menghadapi masa depan.
Pak Roy mengingatkan kami agar tidak hanya pintar di dalam kelas, tetapi juga mengembangkan bakat sehingga suatu hari nanti dapat membawa nama baik SMK Negeri Ampera.
Semua kata-kata itu menjadi penyemangat bagi saya.
Pada hari latihan Peraturan Baris Berbaris (PBB), kami sempat kecewa karena pelatih dari TNI dan Kepolisian berhalangan hadir akibat tugas mendadak.
Namun Pak Gusti berkata,
“Tidak apa-apa, anak-anakku. Kalau mereka tidak bisa hadir, kami para guru akan membimbing kalian. Selama kalian di sini, kami juga adalah orang tua kalian.”
Kalimat itu sangat menyentuh hati saya.
Kami tetap berlatih di bawah terik matahari. Kami lelah, berkeringat, tetapi tidak menyerah.
Dari latihan itu saya belajar bahwa tidak semua harapan berjalan sesuai keinginan kita, tetapi Tuhan selalu menyediakan jalan dan menghadirkan orang-orang yang tulus membantu kita.
Hari terakhir MPLS menjadi hari yang paling mengharukan.
Pada upacara penutupan, seorang teman bernama Nensi membacakan cerita tentang perjuangan orang tuanya yang bekerja keras di kebun agar ia dapat bersekolah.
Saya tidak mampu menahan air mata.
Saya teringat Mama dan Bapak di kampung. Saya teringat tangan mereka yang kasar karena bekerja keras. Saya teringat semua nasihat mereka agar saya belajar dengan rajin.
Saya menangis bukan karena lemah.
Saya menangis karena saya sadar bahwa kami semua memiliki cerita yang sama. Kami datang dari tempat yang jauh dengan membawa doa, harapan, dan pengorbanan orang tua.
Terima kasih Mama dan Bapak.
Terima kasih atas semua pengorbanan yang tidak pernah kalian ceritakan kepada saya.
Terima kasih kepada Bapak dan Ibu Guru SMK Negeri Ampera. Kalian bukan hanya menjadi guru, tetapi juga menjadi orang tua kedua bagi kami selama berada jauh dari rumah.
MPLS mengajarkan saya bahwa belajar bukan hanya tentang membaca buku.
Belajar adalah tentang menghargai perjuangan, bersyukur atas setiap kesempatan, menghormati orang tua dan guru, serta menjadi manusia yang berguna bagi sesama.
Terima kasih, SMK Negeri Ampera.
Terima kasih telah mengubah saya dari seorang murid baru menjadi bagian dari keluarga besar SMK Negeri Ampera.
Share to :