SMK NEGERI AMPERA

BERITA

Cinta Pertama yang Tak Pernah Jadi Mantan

Cantika Putri

(Murid Baru SMKN Ampera, Jurusan Perawat)

 

Waktu saya masih duduk di kelas 1 SD, ayah saya pergi merantau. Hingga sekarang beliau tidak pernah lagi memberi kabar. Saat ini saya sudah duduk di bangku kelas 10. Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, rasa kasih sayang seorang ayah masih saya rindukan dalam hidup saya. Sering kali saya merasa sedih ketika melihat teman-teman memanggil ayah mereka. Namun, setiap kali rasa sedih itu datang, saya selalu teringat pesan mama.

Mama pernah berkata, “Kawan-kawanmu memang masih punya bapak, tetapi apa yang mereka pakai, nona juga punya. Semua kebutuhan sekolah nona mama yang penuhi. Jadi tidak usah berkecil hati. Tuhan pasti menyediakan yang terbaik. Walaupun banyak tantangan dan cobaan, kita harus tetap percaya bahwa rencana Tuhan itu indah pada waktunya.” Kata-kata itulah yang selalu menguatkan hati saya untuk terus melangkah.

Dulu saya tinggal bersama mama di Air Panas, tepatnya di Batu Hitam, Desa Kuifana. Sekolah saya cukup jauh dari rumah. Setiap pagi ketika saya bangun tidur, mama sudah menyiapkan sarapan. Setelah makan, saya langsung berangkat ke sekolah. Kami harus berjalan kaki karena di tempat kami tinggal tidak ada kendaraan. Daerah itu masih sangat terpencil.

Perjalanan menuju sekolah harus melewati jalan yang sepi dan kosong karena belum ada rumah yang dibangun di sepanjang jalan. Setelah memasuki kampung barulah terlihat rumah-rumah penduduk. Ketika musim hujan tiba, mama harus mengantar saya karena sungai meluap. Kami harus menyeberangi enam sungai besar. Teman-teman saya diantar oleh ayah mereka menggunakan sepeda motor, sedangkan saya dan mama harus mondar-mandir mencari bagian sungai yang dangkal agar bisa diseberangi dengan aman.

Setelah mama menggendong saya menyeberangi sungai, beliau langsung pulang untuk bekerja di pantai memungut batu hitam. Di bawah teriknya matahari, mama tidak pernah memedulikan kulitnya yang menghitam atau keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Batu-batu itu kemudian dimasukkan ke dalam karung dengan berat sekitar 60 kilogram, dipikul sendiri, lalu diletakkan ke dalam bak yang telah disediakan. Menjelang siang, mama kembali menjemput saya pulang dari sekolah. Begitulah pekerjaan mama setiap hari.

Namun, di balik semua kelelahan itu, mama tidak pernah mengeluh. Beliau selalu menampilkan senyum di wajahnya. Saya merasa, tanpa mama mungkin saya tidak akan bisa menjadi seperti sekarang. Tidak ada cinta yang lebih tulus selain cinta seorang ibu kepada anaknya. Tanpa menerima gaji sepeser pun dan tanpa bantuan dari siapa pun, mama tetap berjuang dengan penuh kasih demi masa depan saya.

Sekarang saya tinggal bersama nenek di Pulau Kepa. Setiap pagi kami harus menyeberangi lautan menggunakan perahu menuju Alor Kecil. Setelah tiba di Pantai Manggolong, saya harus menunggu bemo untuk melanjutkan perjalanan ke sekolah. Semakin lama menunggu, rasa cemas mulai muncul. Jam sudah menunjukkan pukul enam lewat beberapa menit, sedangkan saya harus masuk sekolah pukul tujuh.

Saya menarik napas dalam-dalam sambil berusaha menenangkan diri. Dalam hati saya bertanya.

“Kalau saya terlambat, apakah guru akan memarahi saya? Apakah saya akan disuruh pulang? Atau teman-teman akan mengejek saya?”

Saat itulah seorang paman datang menghampiri saya dan bertanya,

“Nona mau pergi ke mana?”

Saya menjawab bahwa saya hendak bersekolah di SMK Ampera, tetapi masih menunggu bemo. Paman itu kemudian berkata,

“Mari ikut paman saja, kebetulan kita searah.”

Saat itu hati saya berkata, “Tuhan, apakah ini utusan-Mu? Apakah Engkau sudah menjawab doa yang sejak tadi saya panjatkan?”

Sesampainya di sekolah, ternyata suasana masih sepi. Baru beberapa teman yang datang lebih dahulu. Saya pun menghela napas lega dan mengucapkan syukur kepada Tuhan.

Di SMK Ampera saya belajar banyak hal. Saya belajar tentang kedisiplinan, baris-berbaris, berbagai materi pelajaran, serta belajar menjadi pribadi yang mandiri. Semua pengalaman itu membentuk saya menjadi pribadi yang lebih kuat.

Namun, pelajaran terbesar dalam hidup saya justru saya dapatkan dari rumah. Saya belajar dari keringat mama, dari doa-doanya yang tidak pernah putus, dan dari setiap perjalanan menyeberangi lautan dengan perahu setiap pagi demi mengejar pendidikan. Semua perjuangan itu mengajarkan saya bahwa tidak ada keberhasilan yang diraih tanpa pengorbanan.

Saya sangat bersyukur karena sekolah yang sejak kelas 6 SD saya impikan akhirnya menjadi kenyataan. Kini saya bisa menjadi bagian dari keluarga besar SMK Ampera.

Saya tidak tahu seperti apa masa depan saya nanti. Namun, satu hal yang saya tahu, saya tidak boleh menyerah. Sebab, ada seseorang di rumah yang berjuang jauh lebih keras daripada saya demi melihat saya berhasil. Untuk mama, saya akan terus belajar, berusaha, dan membuktikan bahwa semua pengorbananmu tidak akan pernah sia-sia.

Share to :